KEBENARAN ILMIAH

 

AA. Pengertian Kebenaran Ilmiah

Kebenaran ilmiah adalah suatu pengetahuan yang jelas dan pasti kebenarannya menurut norma-norma keilmuan. Kebenaran ilmiah cenderung bersifat objektif, di dalamnya terkandung sejumlah pengetahuan menurut sudut pandang yang berbeda-beda, tetapi saling bersesuaian. Adanya kebenaran itu selalu dihubungkan dengan pengetahuan manusia (subjek yang mengetahui) mengenai objek. Jadi, kebenaran itu ada pada seberapa jauh subjek mempunyai pengetahuan mengenai objek. Sedangkan pengetahuan berasal mula dari banyak sumber. Sumber-sumber itu kemudian sekaligus berfungsi sebagai ukuran kebenaran. Dalam kaitan dengan Filsafat, Kebenaran menurut Maufur merupakan tujuan yang hendak dicapai oleh filsafat maupun ilmu pengetahuan. Kebenaran memiliki anggapan dasar (asumsi) bahwa kebenaran itu berlaku atau diakui, karena ia memang menggambarkan atau menyatakan realitas yang sesungguhnya. Lantas, apa yang dimaksud dengan kebenaran itu? Inilah pertanyaan yang lebih lanjut harus dihadapi di dalam filsafat ilmu. oleh Purwadarminta di atas, ada beberapa rumusan tentang kebenaran yang dikemukakan Michael Williams. Menurutnya ada lima teori kebenaran, yaitu: 

a. Kebenaran koherensi Menurut teori ini, suatu pernyataan dianggap benar kalau pernyataan tersebut koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Jadi suatu pernyataan dianggap benar apabila pernyataan tersebut dalam keadaan saling berhubungan dengan pernyataan-pernyataan lain yang benar, atau jika makna yang dikandungnya dalam keadaan saling berhubungan dengan pengalaman kita.

b. Kebenaran korespondensi Menurut teori ini, suatu pernyataan adalah benar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan) dengan objek yang dituju oleh pernyataan tersebut. Pernyataan itu benar karena ada kesatuan yang intrinsik, internasional terdapat kesesuaian antara apa yang ada didalam pengetahuan subjek. Jadi kebenara itu adalah kesesuaian dengan fakta, keselarasan dengan realitas, dan keserasian dengan situasi aktual.

 c. Kebenaran pragmatis Menurut teori ini, suatu kebenaran suatu pernyataan diukur dengan menggunakan kriteria fungsional. Suatu pernyataan benar, jika pernyataan tersebut memiliki fungsi atau kegunaan dalam kehidupan praktis. Jadi, kebenaran menurut paham ini bukan kebenaran yang dilihat dari segi atik baik buruk, tetapi kebenaran yang didasarkan pada kegunaannya. 

BB. Metode Keilmiahan Dalam Kebenaran Ilmiah 

Metode yang dimaksud di sini adalah suatu cara untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang benar. Metode merupakan cara-cara penyelidikan yang bersifat keilmuan, yang sering disebut Metode ilmiah.  (scientific methods). Metode ini perlu, agar tujuan keilmuan yang berupa kebenaran objektif dan dapat dibuktikan bisa tercapai. Dengan metode ilmiah, kedudukan pengetahuan berubah menjadi ilmu pengetahuan, yaitu menjadi lebih khusus dan terbatas lingkup studinya.4 Kata metode ini berasal dari bahasa Yunani, ‘methodos’ berati ‘jalan’, ‘cara’, ‘arah’. Metode dapat juga diartikan uraian ilmiah penelitian atau metode ilmiah. Dengan demikian, metode dapat pula diartikan cara bertindak menurut aturan tertentu dengan tujuan agar aktivitas dapat terlaksana secara rasional dan terarah supaya dapat mencapai hasil yang sebaik-baiknya. 

Dalam ilmu metode penelitian. (research) alat untuk menyelidiki atau untuk mengumpulkan informasi data dan hal-hal yang diperlukan bagi si peneliti dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain dengan observasi (pengamatan), kuesioner (angket), interview (tanya jawab), dan lain-lain yang secara keseluruhan lebih mengarah kepada metode statistik, yang berupa penghitungan-penghitungan angka secara generalisasi yang pada akhirnya menghasilkan suatu informasi yang tepat dan rinci. Dengan metode statistik ini akan memperkuat data prediksi, bisa menjelaskan sebab akibat terjadinya sesuatu, dapat menggambarkan suatu contoh fenomena, dan sebagainya.

Metode ilmiah merupakan suatu prosedur yang mencakup berbagai tindakan pikiran, pola kerja, cara teknis, dan tata langkah untuk memperoleh pengetahuan baru atau mengembangkan pengetahuan yang telah ada. Metode secara etimologis berasal dari kata Yunani meta yang berarti sesudah dan hodos yang berarti jalan. Jadi metode berarti langkah-langkah yang diambil, menurut urutan tertentu, untuk mencapai pengetahuan yang benar yaitu sesuatu tatacara, teknik, atau jalan yang telah dirancang dan dipakai dalam proses memperoleh pengetahuan jenis apapun, baik, pengetahuan humanistik dan historis, ataupun pengetahuan filsafat dan ilmiah.7 Buku kepustakaan, tidak ada yang menunjuk ke suatu pendapat mengenai jumlah, macam dan urutan langkah yang pasti sebagai penentu suatu prosedur yang disebut sebagai metode ilmiah. Langkah-langkah itu semakin bervariasi dalam ilmu pengetahuan sesuai bidang spesialisasi yang semakin banyak. Kadang-kadang orang berpendapat bahwa macam metode ilmiah yang digunakan tergantung pada ilmu khusus tersebut, khususnya bersangkutan dengan objek formalnya. Berdasarkan langkah-langkah yang digunakan dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan, seku-rang-kurangnya ada lima langkah yang dapat dikatakan sebagai pola umum, yaitu: penentuan masalah, perumusan dugaan sementara, pengumpulan data, perumusan kesimpulan, dan verifikasi hasil. 

Prosedur yang merupakan metode ilmiah sesungguhnya tidak hanya mencangkup pengamatan dan percobaan seperti dikemukakan dalam salah satu definisi di atas. Masih banyak prosedur yang dapat dianggap sebagai metode ilmiah, yakni : analisis, pergolongan, pemerian, pengukuran , perbandingan dan survai. Oleh karena itu ilmu merupakan suatu aktifitas kognitif yang harus mematuhi berbagai kaidah pemikiran yang logis, maka metode imiah juga berkaitan sangat erat dengan logika. Dengan demikian, prosedur-prosedur yang terglong metode logis termasuk pula dalam rusang lingkup metode ilmiah. Selanjutnya metode ilmiah meliputi rangkaian langkah yang tertib. Dalam kepustakaan metodologi ilmu tidak ada kesatuan pendapat mengenai jumlah, bentuk, dan urutan langkah yang pasti. Sheldon Lachman menguraikan metode ilmiah menjadi enam langkah sebagai berikut : 

a. Perumusan pangkal-pangkal duga yang khusus atau pernyataan-pernyataan yang khusus untuk penyelidikan 

b. Perancangan penyelidikan itu 

c. Pengumpula data

Komentar